Alokasi pajak intra periode


alokasi pajak intra periode

Alokasi pajak intra periode, atau alokasi pajak dalam satu periode, adalah alokasi yang mengaitkan beban pajak penghasilan (provisi pajak penghasilan) dengan item-item atau pos-pos tertentu yang mengakibatkan timbulnya jumlah provisi pajak penghasilan itu.

Perusahaan menggunakan alokasi pajak intra periode pada laporan keuangan untuk item-item berikut:

  1. Penghasilan dari operasi (kegiatan usaha) berkelanjutan.
  2. Operasi yang dihentikan.

Konsep (prinsip) umum yang mendasari praktik ini adalah “pajak seharusnya mengikuti penghasilan.” Baca juga: Pajak tangguhan: pengertian, penghitungan dan pencatatan.

Dalam menentukan beban pajak yang terkait dengan “Penghasilan dari operasi berkelanjutan,” perusahaan menghitung beban pajak penghasilan, baik yang terkait dengan transaksi pendapatan maupun transaksi beban, serta beban pajak penghasilan yang terkait dengan penghasilan dan beban lain yang digunakan dalam menentukan penghasilan dari operasi berkelanjutan.

Dengan kata lain, beban pajak terkait penghasilan dari operasi berkelanjutan tidak memperhitungkan konsekuensi pajak pos-pos yang memang dikeluarkan dalam penentuan “Penghasilan dari operasi berkelanjutan.”

Selanjutnya, dampak pajak terkait operasi yang dihentikan dihitung dan disajikan terpisah dari beban pajak penghasilan dari operasi berkelanjutan.

Contoh alokasi pajak intra periode

Laba sebelum pajak PT Slamet berjumlah Rp2.500.000.000. PT Slamet juga mencatat keuntungan dari operasi yang dihentikan sejumlah Rp1.000.000.000. Jika diasumsikan tarif pajak yang berlaku adalah 30 persen, PT Slamet akan menyajikan informasi sebagai berikut dalam laporan laba-rubi.

contoh alokasi pajak intra periode

Perhatikan, PT Slamet menunjukkan dampak pajak yang terpisah sejumlah Rp300.000.000 terkait dengan “Keuntungan dari operasi dihentikan.”

Have any Question or Comment?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *