Cara perhitungan PPh 21 kenaikan gaji


cara perhitungan pph 21 kenaikan gaji

Cara perhitungan PPh 21 kenaikan gaji pegawai tetap tergantung pada apakah kenaikan gaji itu berlaku surut (retrospektif) atau hanya berlaku sejak bulan kenaikan secara prospektif.

Artikel ini terutama ditujukan bagi Anda yang bertugas menghitung potongan PPh pasal 21 yang instansi atau perusahaannya baru saja menetapkan kenaikan gaji karyawan. Besarnya pajak yang dipotong dan disetorkan bisa jadi naik drastis untuk masa pajak setelah kenaikan.

Anda sebagai pegawai penerima uang rapel juga tentu perlu tahu apakah penghasilan yang Anda terima sudah dipotong PPh 21 dengan benar.

Perlakuan pajak kenaikan gaji secara prospektif sama dengan perlakuan PPh pasal 21 atas penghasilan teratur lainnya. Penghasilan bruto yang mencakup jumlah gaji setelah terjadi kenaikan diperhitungkan dalam menentukan besarnya PKP sebagai dasar pemotongan PPh 21 bulan berjalan dan bulan-bulan selanjutnya.

Jika kenaikan gaji berlaku surut (retrospektif), penghasilan bulan berjalan akan mencakup akumulasi kenaikan gaji dari bulan-bulan sebelumnya, dikenal dengan istilah rapel. Sebagai contoh, kenaikan gaji ditetapkan pada bulan Juni dan berlaku surut dari Januari. Pada bulan Juni, selain memperoleh gaji baru yang sudah naik, karyawan juga menerima akumulasi kenaikan gaji (rapel) lima bulan sebelumnya.

Penghitungan PPh 21 atas rapel dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Jumlah rapel dibagi dengan banyaknya bulan perolehan rapel tersebut (contohnya 5 bulan). Jumlah rapel per bulan seharusnya sama dengan kenaikan gaji yang ditetapkan. Sebagai contoh, gaji ditetapkan naik Rp1.000.000 pada bulan Juni dan berlaku surut dari Januari. Rapel yang diterima bulan Juni adalah Rp5.000.000. Jika jumlah rapel dibagi 5 bulan (Januari – Mei), hasil pembagiannya sama dengan besarnya kenaikan gaji, yaitu Rp1.000.000.
  2. Hasil pembagian rapel tersebut ditambahkan pada gaji setiap bulan sebelum adanya kenaikan gaji.
  3. PPh pasal 21 atas gaji untuk bulan-bulan sebelum ada kenaikan dihitung kembali atas dasar gaji baru setelah ada kenaikan.
  4. PPh 21 atas kenaikan gaji untuk bulan-bulan sebelum ditetapkannya kenaikan adalah selisih antara jumlah pajak yang memperhitungkan kenaikan gaji dengan jumlah pajak yang sudah dipotong pada bulan-bulan yang sama.

Contoh soal dan jawaban yang diberikan pada bagian berikut dimaksudkan untuk memperjelas langkah-langkah di atas.

Contoh perhitungan pajak rapel kenaikan gaji

Pada tahun 2019, Yaza berstatus sebagai karyawan tetap di PT Graha Juanda. Yaza memperoleh gaji bulanan Rp5.750.000 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp200.000. Yaza sudah kawin tetapi belum dikaruniai anak. Pada bulan Januari Yaza hanya menerima gaji.

Penghitungan PPh Pasal 21 bulan Januari adalah sebagai berikut:

  1. Penghasilan bruto = Rp5.750.000
  2. Pengurangan biaya jabatan = Rp287.500 (= 5% × Rp5.750.000)
  3. Pengurangan iuran pensiun = Rp200.000
  4. Penghasilan neto = Rp5.262.500 (= Rp5.750.000 – Rp287.500 – Rp200.000)
  5. Penghasilan neto disetahunkan = Rp63.150.000 (= 12 × Rp5.262.500)
  6. PTKP setahun = Rp58.500.000 (= Rp54.000.000 + Rp4.500.000)
  7. PKP setahun = Rp4.650.000 (= Rp63.150.000 – Rp58.500.000)
  8. PPh pasal 21 terutang = Rp232.500 (= 5% × Rp4.650.000)
  9. Potongan Januari = Rp19.375 (= Rp232.500 ÷ 12)

Pada bulan Juni 2019, Yaza menerima kenaikan gaji bulanan menjadi Rp6.750.000 yang berlaku surut sejak 1 Januari 2019. Dengan adanya kenaikan gaji yang berlaku surut tersebut maka Yaza menerima rapel sejumlah Rp5.000.000 (selisih gaji yang seharusnya diterima untuk masa Januari – Mei 2019).

Perhitungan PPh 21 uang rapel dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

  1. Penghasilan bruto = Rp6. 750.000
  2. Pengurangan biaya jabatan = Rp337.500 (= 5% × Rp6. 750.000)
  3. Pengurangan iuran pensiun = Rp200.000
  4. Penghasilan neto = Rp6.212.500 (= Rp6. 750.000 – Rp337.500 – Rp200.000)
  5. Penghasilan neto disetahunkan = Rp74.550.000 (= 12 × Rp6.212.500)
  6. PTKP setahun = Rp58.500.000 (= Rp54.000.000 + Rp4.500.000)
  7. PKP setahun = Rp16.050.000 (=Rp74.550.000 – Rp58.500.000)
  8. PPh pasal 21 terutang = Rp802.500 (= 5% × Rp16.050.000)
  9. Potongan PPh 21 bulanan = Rp66.875 (= Rp802.500 ÷ 12)
  10. Potongan Januari – Mei yang seharusnya = Rp334.375 (= 5 × Rp66.875)
  11. Potongan Januari – Mei yang sudah dilakukan = Rp96.875 (= 5 × Rp19.375)
  12. PPh 21 rapel kenaikan gaji = Rp237.500 (= Rp334.375 – Rp96.875)

Jumlah Rp237.500 tersebut ditambah dengan perhitungan PPh 21 untuk bulan Juni Rp66.875 dipotongkan terhadap penghasilan Yaza pada bulan Juni, yaitu ketika terjadi kenaikan gaji dan penerimaan rapel.

Have any Question or Comment?

2 comments on “Cara perhitungan PPh 21 kenaikan gaji

febe

bagaimana untuk pelaporan nilai rapel di SPT? dimasukkan di SPT Juni sebesar Rp 6.750.000 + Rp 5.000.000, atau dilakukan pembetulan untuk SPT Januari sampai Mei?

Reply
Warsidi, CA

Menurut saya dilaporkan di SPT Juni

Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *